Rantak Sadaram; jika tak ingin menjadi kelompok yang hangat-hangat tai ayam

Saya tidak ingat persisnya hari dan tanggal berapa, ketika saya mendatangi bapak Guntur. Saya memanggilnya Pak Etek, ia adalah mantan Walinagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, dan tinggal di jorong Padang Panjang. Ia juga salah satu orang yang saya tahu sebagai pecandu kesenian tradisi, serupa Saluang, Rabab, Sijobang, dan kesenian tradisional Minangkabau lainnya. Kadang ia rela mendatangi jauh-jauh tempat di gelarnya Saluang hanya untuk menikmati kesenian tersebut. Selain itu, dia juga seorang yang gemar dan tergolong bisa memainkan instrumen Saluang, meskipun tidak mahir benar, dan tidak menjadikannya sebagai sebuah profesi. Paling tidak ia kerap memainkan instrumen tiup Minangkabau itu di bale-bale lapau tempat ia biasa minum kopi ketika malam hari.

Saya menjumpainya di Oka Peri lapau kopi, salah satu lapau yang lumayan ramai di jorong Padang Panjang. Saya mengutarakan maksud saya, bahwa saya dan kawan-kawan akan memprakarsai sebuah kegiatan berupa festival musik untuk anak nagari. Yaitu dengan mendorong masing-masing jorong yang ada di nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang ini membentuk sebuah kelompok musik (baik tradisi, popular, ataupun gabungan keduanya). Kemudian kelompok tersebut diajak berbagi pengalaman dengan seorang seniman/fasilitator seni untuk membuat semacam karya, baik itu sebentuk komposisi atau aransemen reportoar-reportoar popular Minangkabau.

Sebagai pelaku yang boleh dikatakan aktif, beliau menyambut rencana tersebut. Kemudian menawarkan seorang lagi diantara masyarakat jorong Padang Panjang yang juga sering bergelut dengan kesenian tradisi, Ayah Bije. Pemain rabab, dan juga pernah mengenyam pendidikan di Akademi Seni Karawitan Indonesia (Aski) Padangpanjang.

Tentu Ayah Bije juga menyambut baik gagasan ini, barangkali ia beranggapan ini momen untuk menyemai ekspresi. Paling tidak untuk jorong Padang Panjang, yang memang kurang aktif untuk hal-hal serupa ini, meskipun mereka punya orang-orang kreatif dan juga terampil. Dalam pandangan saya pada waktu itu, saya mendapatkan orang-orang pelaku kesenian musik tradisi.

Saya sempat mengatakan kepada mereka, kalau tidak salah saya pernah mendengar mereka memainkan instrumen saluang, rabab, dan diiringi gitar dan gendang dangdut di lapau ini (baca: lapau Peri). Saya pikir mereka waktu itu sedang latihan atau hanya sekedar melepas uas-uas saja. Kemudian saya tawarkan, kenapa tidak diajak sekalian kawan-kawan muda yang ketika itu ikut mengiringi.

Lantas mereka mengiyakan, dan saya mencari teman-teman muda tersebut. Mereka adalah Endit (memainkan drumset digrup musik Punk nya), Iwan (biasa memainkan bass dan satu grup dengan Endit), ada Memet dan Yuzel (pernah ikut pelatihan Talempong), ada Il yang baru belajar main gitar, Nanda yang kemudian bergabung sambil mempelajari memukul Djimbe, kemudian ada Takur (pemuda rantau dan sekarang memilih pulang kampung), serta Ainy (yang sepertinya baru menjadi warga jorong Padang Panjang). Inilah orang-orang yang kemudian membuat sebuah kelompok musik di jorong Padang Panjang.

Setelah saya menghubungi satu persatu, lantas mereka menanyakan banyak hal. Mulai dari peralatan latihan hingga anggaran untuk pelaksanaan festival yang saya maksud. Untuk peralatan latihan tentu bisa dengan memaksimalkan apa peralatan yang ada, bukankah di nagari punya sanggar seni Puti Ambang Bulan. Paling tidak Talempong, gendang, dan alat-alat combo band tersedia. Kemudian masalah anggaran saya jawab tidak punya, saya bilang ingin membuat kegiatan tidak dengan modal biaya, melainkan modal kemauan.

Barangkali benar, bahwa paradigma berfikir kita melulu soal modal biaya. Tentu akan menjadi hebat jika bisa menyelesaikan dengan sukses kegiatan apa saja dengan anggaran banyak. Justru akan lebih hebat dan sukses jika bisa menyelesaikan setiap kegiatan tanpa anggaran biaya yang selalu bersangkut paut dengan stakeholder lain. Jika bersangkut pada biaya, bagaimana jika modal biaya tidak pernah ada, tentu kegiatan apapun juga tidak akan pernah ada. Sementara kita tidak menyadari bahwa modal itu bukan hanya soal anggaran biaya saja, modal kultural, modal intelektual, modal sosial yang kita punya merupakan modal yang lebih besar untuk sebuah gerakan. Begitu saya menjawab beberapa pertanyaan kawan-kawan itu.

Dari Lapau Hingga Ke Panggung

Berbeda dengan jorong lainnya, kelompok musik jorong Padang Panjang memilih latihan di jorong Sikabu-kabu, basecampnya sanggar Puti Ambang Bulan. Mereka mengatakan agak segan bila merepotkan fasilitator untuk datang ke tempat mereka, biar mereka saja yang mendatangi fasilitator. Maka, dimulailah latihan pertama.

Tampak Ayah Bije menenteng rebab di punggungnya, setelah mengeluarkan dari softcasenya kemudian ia memesan kopi di kedai di depan sanggar. Setelahnya, selaku yang mendapat tugas mefasilitasi kelompok jorong Padang Panjang, Andes mengajak mereka berdiskusi menyoal apa yang akan digarap, dan format garapan seperti apa.

Takur, sebagai pendendang langsung nyeletuk. Bagaimana kalau mengaransemen lagu Buruang Bondo, sebuah reportoar Minangkabau yang cukup popular di masyarakat. Dendang yang mengisahkan soal kekalahan atas nasib. Kekalahan inilah yang kemudian diekspresikan ke dalam karya aransemen musik. Format yang disepakati adalah semacam ansambel talempong, dan rabab. Memet dan Yuzel memainkan talempong melodis dan akor, Endit memainkan perkusi tambua pengganti drum, Il memainkan gitar, Iwan memainkan bass, Nanda memukul djimbe, Takur dan Ainy menjadi pendendang, serta Ayah Bije menggesek Rabab. Sementara Pak Guntur tidak hadir karena belum bisa meluangkan waktu untuk latihan.

Maka mulailah untuk menganalisa sebuah lagu, struktur sebuah lagu, atau mereka biasa mengenal dengan batang lagu. Diantaranya, ada intro, song, interlude, bridge, serta reffrain. Mengaransemen berarti mencari kemungkinan bunyi-bunyi yang lain untuk memulai atau mengisi musik iringan yang tentu berbeda dengan bunyi atau melodi aslinya. Menetapkan instrumen mana yang sekiranya pas untuk memainkan melodi tertentu. Bagaimana kemudian mencari satu persatu kalimat demi kalimat musik untuk mengisi struktur musik atau batang-batang lagu tersbut.

Terlihat mereka bersitungkin mencari bunyi, menghapal bagian perbagian masing-masing. Pada latihan pertama tersebut mereka hanya bisa mencari satu kalimat musik untuk mengawali sebuah lagu, itupun dengan terbata-bata. Meskipun demikian, agaknya dapat melihat raut senang dari wajah mereka, hal pertama bagi mereka proses kreatif serupa itu.

Latihan selanjutnya, Ayah Bije tidak bisa hadir, dikarenakan pas dihari latihan salah satu anggota keluarga sedang berbahagia, biasanya tentu digelar acara mendoa bersama. Pak Guntur juga belum bisa hadir, sehingga latihan pada saat itu hanya yang muda-muda saja. Mereka tetap bersemangat dalam pencaharian bunyi. Ada perkembangan sedikit dari latihan sebelumnya, tetapi tetap ada bunyi yang terlupa-lupa ingat.

Ketika sedang bergairahnya untuk berlatih, ada saja yang menghentikan proses mereka. Kira-kira 4 minggu latihan mereka terhenti. Selama 4 minggu tersebut ada saja warga yang meninggal di sekitaran sanggar, tentu segala macam bunyi-bunyian dihentikan untuk menghormati keluarga yang sedang berduka. Hal ini tentu menjadi kecemasan, apakah bisa mengikuti festival ini atau tidak, sementara mereka sudah tertinggal banyak materi. Untunglah minggu-minggu selanjutnya tidak ada lagi warga yang meninggal, sehingga mereka bisa melanjutkan apa yang tertinggal.

Namun ada persoalan lain, agakny adalam pementasan nanti mereka tidak akan didampingi lagi oleh Ayah Bije dan Pak Guntur, sebagai pemain rabab dan saluang. Susahnya membagi waktu latihan dengan kesibukan membuat mereka tidak bisa mengikuti proses latihan. Kiranya ini yang menjadi persoalan besar bagi kesenian kita, kebutuhan hidup yang semakin meningkat juga memacu kesibukan masyarakat semakin pepat. Sementara kesenianpun tidak mugkin bisa menghidupi. Sehingga pelaku kesenian terpaksa menempatkan keseniannya diantara kuap dan kantuk serta penat pekerjaan masing-masing.

Tapi tampaknya, ketidak ikut sertaan  2 orang pilar kesenian jorong Padang Panjang tersebut tidak membuat mereka ikut patah semangat pula. Mereka telah siap dengan format pertunjukan yang nantinya berupa talempong, gendang, djimbe, bass, dan gitar. Dengan garapan banyak memainkan pola-pola ritme, karena melodi hanya bisa dimainkan dengan talempong saja, tentu ini akan sangat tedengar monoton. Tetapi, tentu tidak mengurangi girah mereka untuk mengabarkan keresahan Buruang Bondo yang kalah oleh nasib. Serta tidak sabar melihat mereka mengoyak panggung yang akan ditonton oleh masyarakat banyak, tidak lagi panggung di bale-bale lapau yang hanya ditonton oleh pengunjung lapau saja.

keron

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke atas