Setelah gagasan Legusa Festival dibicarakan akhirnya dapatlah sebentuk konsep dan pola kegiatannya. Berupa mendorong anak nagari di masing-masing jorong yang ada di nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang untuk membentuk sebuah kelompok musik, kemudian beproses, lalu dirayakan ke dalam bentuk festival. Maka kami (saya, Andes, Arif, Wit, Diana) melakukan pemetaan di masing-masing jorong untuk mencatat para pelaku kesenian yang ada, serta kelompok-kelompok yang sudah ada atau pernah ada. Setelahnya mengajak mereka untuk berdiskusi menyoal kegiatan ini, mengajak membuat semacam karya musik, baik itu sebentuk komposisi musik ataupun aransemen musik.
Kiranya, jorong Bukik Kanduang memiliki itu, ansambel talempong pacik. Ansambel yang biasa dimainkan untuk maarak atau mengiringi pawai perhelatan tertentu. Biasanya, pesta perkawinan, batagak pangulu, dan lain sebagainya. Tidak hanya dimainkan oleh kaum ibu-ibu, tetapi juga anak-anak yang beranjak remaja. Agaknya di jorong ini mereka melakukan peremajaan atau peregenerasian.Ketika sedang latihan, ibu-ibu membawa serta merta anak-anak mereka. Di sela-sela latihan anak-anak mereka mencobanya pula, hingga akhirnya mereka sudah bisa pula menghapal pukulan-pukulan. Kini mereka sudah biasa memainkan beberapa reportoar-reportoar talempong pacik. Tentu ini kabar baik, tinggal bagaimana mengajak dua kelompok ini berkolaborasi, dan menantang mereka untuk membuat semacam karya.
Sebagaimana di jorong-jorong lain, kamipun menjanjikan untuk mendatangkan seorang seniman/fasilitator seni untuk berbagi pengalaman dalam berproses membuat musik. Bagaimana nanti mereka bisa saling bedialog menyoal musik seperti apa yang akan dibuat. Namun kehadiran fasilitaor tidak sesuai dengan jadwal yang kita tentukan dan agak terkendala menyoal ini. Fasilitator seni yang sudah bersedia untuk terlibat kegiatan ini tidak bisa hadir diwaktu latihan yang disepakati, dikarenakan ada pekerjaan yang mesti dilakukannya. Ya, kami mengundang diantara kawan-kawan dan jejaring kami, diantaranya seniman-seniman, komposer-komposer muda Sumatera Barat untuk mau berpartisipasi dalam pilot project ini, pembedayaan potensi seni masyarakat.

Lantas, official (yang biasa mendampingi latihan, terdiri dari beberapa pemuda) kelompok musik Bukik Kanduang tentu sangat resah, dan menanyakan perihal ini. Sementara di jorong-jorong lain proses latihan sudah dimulai, namun mereka belum dapat satu nada pun. Sementara di jorong-jorong lain beberapa proses latihan sudah dipublis dibeberapa media maya, namun mereka tak kunjung latihan. Hingga hampir satu bulan lamanya mereka menunggu. Akhirnya kami mengambil langkah untuk memberikan pekerjaan fasilitator ini kepada Alex Septiyono (yang juga menjadi fasilitator di jorong Tanjung Haro Selatan). Dengan cepat kami mengajak Alex mendiskusikan ini, dan dengan senang hati Alex menerima. Dengan cepat pula kami bergerak ke jorong Bukik Kanduang, mendiskusikan kembali garapan apa yang akan digelar nanti.
Sekitar pertengahan April 2018, latihan perdana digelar. Perencanaan awal menyoal konsep garapan yaitu mengajak dua kelompok ansambel talempong pacikyang ada di jorong Bukik Kanduang untuk membuat karya bersama. Dua kelompok yang dimaksud adalah kelompok ibu-ibu dan anak-anak. Setelah mendiskusikannya, kami membayangkan sebuah karya dengan model garapan Tanyo Bajawek (tanya berjawab). Sebagaimana dalam istilah musik kita kenal dengan antaseden konsekuen atau pada istilah lain kerap juga kita dengar dengan call and respon. Tentu menarik sekali bagaimana kemudian ibu-ibu dan anak-anak saling bertanya dan berjawab melalui musik. Namun, sangat disayangkan sekali, kelompok ibu-ibu tidak bisa mengikuti gelaran ini, dikarenakan tidak bertemunya jadwal latihan yang pas. Ada saja diantara ibu-ibu yang tidak bisa hadir. Sementara, waktu untuk proses tinggal sedikit lagi. Kecemasan itu yang membuat kami untuk memutuskan untuk tidak mungkin menunggu-nunggu, akhirnya garapan ini hanya dimainkan oleh kelompok anak-anak. Tetapi masih dengan konsep garapan yang sama, saling bertanya dan berjawab.
Tanyo Bajawek: Sebuah Karya Dari Telinga Menuju Ingatan, Merespon Fenomena
Adalah Minah, Moza, Firman, Caca, Ziya, Dwi, dan Ivo.Mereka tergabung dalam kelompok musik jorong Bukik Kanduang, sekumpulan anak-anak yang mulai beranjak remaja.Meskipun diantara mereka ada yang masih bersekolah SD dan SLTP, tetapi ingatan mereka punya bekal bunyi, berupa pengalaman musikal yang menurut saya belum tentu didapat oleh anak-anak yang lain.

Agaknya, bebunyian yang sering mereka dengar tersebut telah ikut memacu kreativitas mereka lebih cepat. Ada beberapa reportoar talempong pacikyang sudah mereka kuasai, diantaranya siamang tagagau, sawai kamalaman, taratak, panyinggahan. Diantara gua atau pola tersebut akan mereka selipkan di dalam karya. Yang menarik bagi saya adalah, ketika mereka membuat sendiri sebuah pola atau gua, yang mereka sebut dengan pantau barangok. Sungguh memacu semangat dari bunyi-bunyi yang mereka tawarkan kepada kami. Ketika baru sampai kepada pola satu, pola dua seolah dalam ingatan mereka, bahkan gua baru pun tecipta. Tak ayal, beberapa masyarakatkan apresiasi dengan ikut aktif menonton setiap sesi latihan di rumah Mak Inang.
Tidak hanya itu, yang menariknya lagi, ketika ditanya apa nama kelompok mereka, dengan gagah mereka menjawab Puti Indah Jalito. Mereka tidak mau memakai nama yang diberikan oleh official mereka, yaitu kakak-kakak dan abang-abang mereka yang biasa mendampingi latihan mereka. Kiranya, nama tersebut mereka dapat dari hasil bacaan mereka atas buku-buku certia klasik Minangkabau. Puti Indah Jelita, maka dengan senang hati mereka menamai grup mereka dengan nama itu. Nama yang keren dan menarik. Keren karena seolah merekalah yang indah dan jelita tersebut, seperti primadona. Dan menarik karena mereka mencari dan menemukan sesuatu dari apa yang mereka baca, seolah mereka memulai pengetahuan dengan membaca.
Barangkali memang ada benarnya kata orang tua, bahwa pengalaman itu semacam kekayaan batin yang menjompak-jompak dalam ingatan. Ketika masanya, pada kesempatan yang lain, pengalaman itu siap untuk dituangkan dan menjadi sebuahpengetahuan. Hemat saya, pengalaman-pengalaman bebunyian itulah yang akan diwujudkan oleh Puti Indah Jalito ke dalam garapan musik. Sebuah ansambel dengan format talempong pacik, gendang, gong, tamborin.

Tidak hanya puas bermain-main dengan pola gua instrumen talempong pacik, mereka juga bermain-main dengan vokal. Mereka akan mendendangkan lagu secara bersama dengan teknik betanya dan berjawab. Dendang tersebut dibuat dari pantun yang isinya didekatkan kepada fenomena pernikahan dini yang kerap menelan masa-masa remaja para perempuan di jorong ini. Fenomena ini yang kemudian akan mereka nyanyikan untuk masyarakat mereka sendiri dalam panggung Legusa Festival 2018.
