Sore itu, Jumat, tanggal 25 Maret 2018, saya dan tiga orang kawan menyepakati jadwal untuk datang ke jorong Tanjung Haro Selatan. Salah satu Jorong yang ada di Nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang. Sore yang lembab itu mendadak menjadi asing bagi beberapa masyarakat, tampak ekspresi bertanya-tanya dari wajah mereka yang sedang duduk-duduk di lepau yang ada di depan rumah tempat kami memarkir motor. Dengan tatapan yang panjang dan lama mereka mamatut-matut kami, beberapa anak-anak muda gondrong yang tiba-tiba datang ke kampung mereka membawa beberapa peralatan musik (talempong, gendang tambur).
Dengan santai kami memarkir motor di rumah ibu Asnimar, seorang yang kami tau dari beberapa cerita, bahwa ibu itu sebagai pelaku kesenian di kampung itu. Terang saja, ibu Asnimar memang sangat terkenal, tidak hanya di kampung nya, bahkan sampai kampung sebelah. Ia tak lain adalah yang selalu menggerakkan ibu-ibu lainnya untuk tetap terus memainkan kesenian Talempong Sikatuntuang, sebuah ansambel musik talempong pacik milik mereka. Diusianya yang hampir 70 tahun, Niman begitu orang memanggilnya, ia masih sangat bergairah untuk bercerita apalagi memainkan gua demi gua talempong pacik milik kelompoknya, Sago Saiyo. Hingga hari ini kelompok ini masih eksis, kerap diundang untuk maarak atau mengiringi jalannya kegiatan-kegiatan perhelatan tertentu, sebut saja pehelatan perkawinan, pengangkatan penghulu, dan kegiatan kemasyarakatn lain di nagarinya.
Atas alasan itu pulalah yang menjadi motivasi bagi kami untuk datang ke rumahnya. Mengajak kelompok musik ibu-ibu tersebut berdiskusi, ngobrol ringan, perihal kesenian yang mereka geluti. Hasil obrolan itu kemudian dicoba dipraktekan ke dalam latihan bersama, dengan harapan bisa membuat semacam karya musik yang berangkat dari apa yang biasa mereka mainkan, lalu dipentaskan dalam kegiatan yang sedang kami prakarsai. Yaitu Legusa Music Festival, sebuah perayaan atas proses kreatif musikal di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, Kec. Luak, Kab. Lima Puluh Kota.

Kedatangan kami disambut baik oleh ibu Asnimar dan anaknya yang kemudian kami kenal dengan nama Uni Lili, serta beberapa anak remaja putra dan putri yang tampak malu-malu. Kami dipersilahkan duduk di kursi tamu, tak lama setelahnya kopi terhidang. Dari meja tamu tempat kami duduk, kami bisa melihat di ruang tengah telah siap seperangkat ansambel alat musik. Diantaranya, alempong sebanyak 6 buah diatas tatakannya, sikatuntuang (berupa kayu balok yang terbuat dari batang Cempedak sepanjang 1,5 meter dengan tebal kira-kira 15-20 cm), 3 buah tongkat sepanjang 1,5 meter sebagai penumbuk Sikatuntuang, 1 buah Canang (talempong dengan ukuran agak besar dan lebar) yang difungsikan sebagai gong pengatur tempo permainan.
Setelah ngobrol seru perihal kesenian mereka, kami belum juga melihat ibu-ibu yang akan memainkan kesenian tesebut. Alih-alih untuk bisa bermain bersama dengan mereka, kepada kami malah diserahkan para remaja putra dan putri yang malu-malu itu untuk kemudian minta diajarkan memainkan talempong. Meskipun kami telah mengatakan bahwa kedatangan kami bukan untuk mengajarkan mereka, melainkan untuk mengajak ibu-ibu Sago Saiyo untuk latihan bersama. Agaknya sebuah kekeliruan jika kedatangan kami untuk mengajarkan anak-anak mereka. Justru kedatangan kami yang sebenar-benarnya ingin mempelajari banyak hal. Kedatangan kami hanya untuk mendorong mereka untuk membuat semacam karya musik dengan dibantu oleh seorang seniman (fasilitator) yang akan memfasilitasi ibu-ibu untuk mengkompos sebuah musik.
Rupanya, ibu-ibu Sago Saiyo sedang menjebak kami. Pengetahuan yang kami miliki perihal seni dengan mudahnya mereka tawan, bahwa kami mesti mengajarkannya kepada anak-anak remaja putra dan putri mereka. Seolah kami adalah orang-orang pemerintahan yang mungkin sudah menjadi tugas mereka untuk memfasilitasi serta mendorong kelompok-kelompok seni atau sanggar-sanggar yang ada di masyarakat untuk mengembangkan kesenian yang mereka miliki.

Apa boleh buat, kami bukan dari pemerintahan, tetapi merasa jadi bertanggung jawab untuk mentransfer ilmu dan pengetahuan yang dimiliki kepada remaja putra dan putri ini. Alex Septiyono selaku fasilitator untuk jorong Tanjung Haro Selatan mendapatkan tantangan yang lumayan berat. Kenapa tidak, Alex terlebih dahulu mesti belajar pola-pola melodi, pukulan-pukulan ritme kesenian yang meraka miliki kemudian mengajarkan kembali kepada merekayang lebih muda. Terasa agak ironis memang.
Kelompok musik Carano Badantiang: kesibukan baru Ridho setelah rumput dan sapinya
Maka, mulailah remaja putra dan putri itu berlatih kesenian yang sebenarnya sangat sering dimainkan oleh ibu-ibu mereka. Adalah Della Novianti, Rani Syavitri, Difva Anggraini Putri, Fitri, Ridho Ilahi, Yeli Asmara, Ilham Kelana yang kemudian memberi nama grup mereka dengan Carano Badantiang.
Kini, mereka harus meluangkan waktu untuk belajar kesenian tradisi mereka. Memukul talempong, gendang, gong, serta sikatuntuang, menghapal pola demi pola pukulan, melodi demi melodi. Bagaimana kemudian mereka harus bisa melawan kejenuhan ketika tidak kunjung bisa memainkan pola dan melodi yang sudah dicari. Bagaimana dengan tekun mengorganisir mood menunggu rekannya yang lambat untuk menghapal. Serta kesabaran fasilitator menghadapi tingkah polah para remaja ini, yang sebentar-sebentar memegang gadget mengeser-geser scroll handphonenya, selfie-selfie ketika sedang latihan. Tingkah polah itu, tentu menjadi catatan tersendiri dalam proses bersama.
Tentu banyak hal menarik yang sayang untuk dilewatkan dalam proses ini, salah satunya ketika Rido Mak pado (pemain perkusi) nyeletuk, “ternyata berbeda memegang gagang sabit dengan stik perkusi,” kata Rido sambil mengangkat stik yang ada di tangannya.

Ya, seperti biasanya, kebanyakan remaja di nagari ini memiliki ternaknya masing-masing, itulah harta yang paling berharga dalam keluarga kecil mereka, setelah tanah ulayat yang menjadi harta milik kaum sebagai keluarga yang besar. Tentu, sebagai anak laki-laki yang jantan mereka mesti pandai dalam hal berternak. Paling tidak mencari rumput untuk sapi-sapi atau kerbau-kerbau yang mereka miliki. Biasanya, setelah makan siang seusai sekolah, sambil berjalan mereka akan menggesek-gesekan sabit ke batu asah yang dibasahi air, dengan rajuk atau goni diselipkan antara ketiak dan rusuk. Mereka akan bejalan menyusuri pematang sawah mencari rumput-rumput yang tumbuh tebal. Setelah disabit goma demi goma, kemudian rumput dimasukkan kedalam rajuk atau goni plastik, hingga tinggi lanjung bubungnya.
Sebelum banyaknya motor seperti sekarang ini, dulu serajut rumput dijujung dikepala. Saking besarnya jujungan di kepala, maka kita tidak akan bisa melihat wajah orang yang sedang membawanya, karena tertutup oleh besarnya lanjung bubung rumput tersebut. Tetapi tentu sekarang sudah bisa dibawa dengan motor, atau becak.

Seperti halnya teman-temannya, Ridho juga menyabit rumput satu rajuk atau goni perharinya.Akan tetapi, Ridho yang otot-otot tubuh besar itu kini punya kesibukan baru. Menggebuk tambur, alat perkusi yang sebagian masyarakat menyebutnya dengan gendang. Ridho menjadi pesonil grup yang dibentuknya bersama rekan-rekannya. Mereka sedang menggarap sebuah karya komposisi musik yang berangkat dari pola-pola melodi dan ritme talempong sikatuntuang yang sering mereka dengar dari ibu-ibu mereka. Karya yang diberi judul bakalesong di nan satumpak, kira-kira artinya berputar-putar disitu-situ saja.
Memang, karya yang sedang mereka buat tersebut tidak beranjak dari pola ritme dan melodi sikatuntuang. Seolah ingin mendendangkan kehidupan mereka yang tidak banyak berubahnya. Namun, melalui musik ereka mengolah dan mengembangkannya menjadi lebih bernyanyi dan lebih ritmis, dan mempertunjukkannya pada pentas Legusa Festival.
