Kakak denai si uwi bali
nan daolu engkau nan tuo, diek ei
nan sakarang aku nan tuo
engkau ka den suruah sirayo gadih
mancari simambang hitam duo simambang kuniang tigo jo simambang sirah, gadih ei
Begitu sebuah dendang dilantunkan dengan nyaring oleh Laila Okta Triani alias Yaya pada suatu ketika. Sample audionya dikirimkan olehnya kepada saya. Terdengar dendang itu ia lantunkan pada sebuah panggung pertunjukan. Melalui sebuah headset, suara itu dihantar jauh ke bagian terdalam telinga saya. Mendengarnya, kening saya langsung mengerinyit. Dendang yang magis itu melengking begitu tinggi, sementara garinyiak dan vibrasinya masih terdengar dengan jelas di ujung-ujung nadanya. Dengan sedikit menggelengkan kepala, saya mencoba membayangkan bagaimana caranya ia menyanyikannya.
Kiranya, begitulah Yaya. Vokalis high voice, istilah yang telah melekat dengannya. Setiap kali penggarapan karya musik yang melibatkan dirinya, lengkingannya akan memberi efek cengang bagi teman-temannya, baik ketika proses maupun pada saat pertunjukan.
Dengan tawa yang sedikit geli ia terima saja predikat itu. Karena baginya, ada yang lebih menggelikan dari pada itu. Tak lain adalah apa yang digiatkannya hari ini. Dunia kesenian, sebuah dunia yang tak pernah ada dalam proyeksi masa depannya sejak kanak-kanak. Karena, secara pendidikan, Yaya sebenarnya dibesarkan dalam kultur madrasah. Setelah tamat MTSN Sungai Jambu, Tanah Datar, ia melanjutkan sekolah menengah ke MAN 2 Batusangkar. Setelahnya, berkuliah beberapa semester di STAIN Batusangkar.

Namun, pada tahap inilah Yaya memulai babak baru dalam pendidikannya. kekurangnyamanan, serta dorongan yang kuat untuk mendapatkan hal yang baru terasa sangat kuat dalam dirinya. Dari Batusangkar, ia hendak memulai pendidikan baru di kota Bukittinggi. Nah, dari sinilah dimulai pengembaraan barunya.
Ia masih ingat betul, ketika memutuskan hendak pindah ke kampus barunya di Bukittinggi. Barangkali ada nilai-nilai dan mata kuliah yang bisa ditransfer. Sehingga nanti ketika sudah kuliah tidak perlu lagi mengulang-ngulang pelajaran-pelajaran yang sifatnya umum. Maka, hari itu ia berangkat ke Bukittinggi. Namun, sekiranya ada kekuatan lain yang menyergah untuk singgah di kota Padangpanjang. Lalu kakinya membawa langkah untuk singgah ke kampus dengan bangunan-bangunan berlancip bercat biru-biru dan keputih-putihan. Kampus yang di depannya bertuliskan Institut Seni Indonesia Padangpanjang.
Suasanan hatinya lantas berubah seketika. Bangunan-bangunan yang dilihatnya, serta orang-orang yang berlalu lalang di depannya menghadirkan semangat baru. Dari pandangan pertama itu, ia langsung jatuh cinta. Cukup beberapa jenak hatinya langsung tergerak. Diambilnya keputusan sepihak, tak ada cerita untuk Bukittinggi, ia memilih ISI Padangpanjang. Ia ingin menimbun dirinya dengan pengalaman-pengalaman baru. Soal bakat, kebisaan atau ketidakbisaan itu soal nanti, adalah soal bagaimana ia berproses. Selamat datang dunia baru, katanya dalam hatinya.
Awalnya hanya irama, selebihnya adalah prosesnya
Yaya, dengan begitu polosnya memberikan sebuah pengakuan. Bahwa, pilihannya di ISI Padangpanjang di jurusan Karawitan hanyalah pelarian saja. Saya kira, sebuah keputusan yang membutuhkan keberanian. Keberanian untuk berjalan dalam upaya untuk mencari dirinya sendiri. Jika jalan yang lama dirasa sudah buntu, maka tentu yang dibutuhkan adalah jalan yang baru. Jalan yang akan ditempuh dengan segala rupa tantangannya. Ibarat meneroka, tentu ia harus punya bekal untuk berkembara. Lalu, modal apa yang ia bawa serta?

Ketika ada yang bertanya apakah ia punya musikalitas, dengan tidak yakin ia menjawab dengan sedikit angguk, lalu selebihnya menggeleng. Entahlah, ia bahkan tidak tau, apa itu musikalitas. Nada-nada, pentatonis, diatonis, ritmis, tak pernah ada dalam vokabularinya. Yang ia tahu hanyalah irama, bayyati, shoba, nahawand, hijaz, rost, sika, dan jiharka, telah lekat dalam ingatannya.
Kiranya, irama-irama itulah yang kemudian menjadi bekal awalnya, tentu selebihnya adalah bagaimana ia memprosesnya. Di kelas, ia bertemu dengan ragam teori-teori, lalu, di komunitas ia bersua dengan ragam cara untuk mempraktekannya. Di kelas, ia banyak belajar mengenal reportoar-reportoar tradisi, kemudian panggung menjadi tempat ia mempresentasikannya. Kini, banyak komunitas yang telah dimasukinya, yang tentu semakin memperkaya dirinya. Dan tampaknya, proses itulah yang sekarang ini dinikmatinya, yang mungkin saja akan dibawanya ke dunia-dunia baru selanjutnya.
