Edo Koro: layar hidup yang menghidupi

Siapa tahu, ternyata Edo Koro juga pernah merasakan jadi “pengamin” di persimpangan-persimpangan jalan. Jalan-jalan lintas yang cukup sibuk dengan hilir mudik bus antar kota dalam provinsi. Manggung di terminal, di jalanan, serta di dalam bus-bus menjadi rutinitasnya hampir setiap hari. Tentu setelah tugas pendidikannya di sekolah menengah selesai.

Siapa tau juga, jauh ke belakang, Edo kecil adalah seorang kanak-kanak yang begitu aktif dan begitu ceria. Tidak pernah untuk tidak ikut dalam aktivitas-aktivitas kesenian. Agaknya ia telah terbiasa untuk mengekspresikan diri sejak dini. Baik itu di rumah ataupun di sekolah.

Ia sering dapat kebagian menyanyikan lagu-lagu rohani dalam acara didikan subuh di TPA tempat ia mengaji. Ikut menjadi penari indang atau tari dindin ba dindin dalam acara perpisahan sekolah dasar. Ikut dalam barisan penari kipas serta juga ikut bermain peran dalam pementasan opera/operet sekolah menengah.

Dan satu pengalaman yang kemudian menjadi pilihan estetiknya, yaitu dunia film. Pada tahun 2005 ia dipertemukan dengan seorang seniman asal kota Payakumbuh. Saat itu kehadiran mereka di Payakumbuh adalah untuk proses produksi sebuah film. Film, sebuah dunia di dalam frame, agaknya sesuatu yang baru baginya. Pada tahun itu juga, ia langsung bergabung dengan komunitas itu. Komunitas Hitam Putih.

Satu tahun terlibat di Hitam Putih, mulai membuka cakrwala kreatifnya. Ia pun berkenalan dengan seni teater. Dunia yang lebih kompleks dari yang dipentaskannya ketika di sekolah menengah dahulu. Ia pun bersentuhan dengan musik. Birama-birama yang tak hanya mengiringi perjalanan demi perjalanan orang-orang di dalam bus. Melainkan, memberi “rasa” pada perjalanan kehidupan. Baik di dalam dunia nyata, maupun dalam dunia frame filmnya. Ia pun banyak bersentuhan dengan seni rupa, dan lain sebagainya.

Proses produksi bersama warga

Ia kemudian memperdalam semua itu di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padangpanjang, kini ISI Padangpanjang. Seni visual televisi dan fim menjadi pilihan utamanya. Menggeluti seni visual di lingkungan akademis maupun non akademis memberi satu kesadaran yang mendalam baginya. Bahwa seni itu merupakan satu ilmu (pengetahuan) dan juga kemampuan (skill) yang kemudian bisa menjembatani (media) kita dengan dunia di luar kita.

Tak sedikit karya film yang Edo terlibat dalam produksinya. Baik itu sebagai sutradara, penulis naskah, sebagai operator kamera, ataupun sebagai konsultan produksi. Rahasia Kita (fiksi pendek:2008). Bukik Batu Patah (dokumenter pendek:2009). Kampia(documenter pendek:2009). Baburubabi(documenter pendek:2011). Penumpang dan Kartu Nama (fiksi pendek:2010-2011). Pulang (find way home) (fiksi pendek:2012). 44 V(fiksi pendek:2013). Kepulangan Terakhir(fiksi Pendek:2013). Kepingan Terakhir (fiksi panjang:2013). Pakasiah Biola (fiksi pendek:2020). Cemar(fiksi pendek:2022). Yang Tak Diingat (fiksi pendek:2022). Langkah Tigo(fiksi pendek:2023). Sitenggang Lapa (fiksi pendek:2023).

Dulu, Edo hanya berfikir bahwa film adalah sebuah dunia dimana ia bisa menciptakan satu kehidupan di dalamnya. Agaknya kini, film juga tengah memberikan kehidupan padanya. Film membawanya bertemu dengan banyak teman-teman baru di banyak sekolah di Sumatera Barat. Pada kesempatan lain, ia juga kerap memenuhi undangan untuk memberikan workshop, seminar dan program pelatihan teknis seni visual. Baik itu fotografi maupun vidiografi.

Sitenggang lapa: kreativitas Edo Koro dan masyarakat nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang

Dunia film jugalah yang pada akhirnya membawa Edo ke nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang. “Nagari ini sudah seperti studio alam yang terpampang di sepanjang hamparan kaki-kaki gunung. Sawah-sawah jenjang bertingkat, aliran anak sungai, jalanan desa yang mendaki dan menurun membelah pemukiman warga. Hal ini merupakan telah menjadi daya tarik secara visual. Tinggal bagaimana menghadirkan kisah cerita di dalamnya.” kata Edo pada satu ketika.

Pemutaran film sitenggang lapa

Film juga lah yang kemudian membuat Edo hadir di Legusa Festival tahun 2023 ini. Sebuah proyek pemberdayaan masyarakat melalui aktivitas-aktivitas seni. Bagaimana kemudian film bisa menjadi “alat” bersama untuk menyuarakan kegelisahan-kegelisahan masyarakat. Untuk itu, keterlibatan masyarakat di dalam produksinya menjadi sebuah keharusan. Mulai dari ide cerita, pemilihan lokasi, pemilihan aktor dan aktris, dan juga tim produskinya. Pendeknya, film dijadikan sebagai sarana untuk berdialog dengan segenap masyarakat. Secara proses, tentu karya ini menjadi satu tantangan baru bagi Edo.

Ia pun mulai mengajak masyarakat untuk becerita. Menangkap fenomena-fenomena sosial yang ada. Mencatatnya, kemudian membuat alur cerita. Cerita ini nantinya akan dikembalikan dalam bentuk visual kepada masyarakat. Ia kemudian bertemu dengan CML (Carito Minang Lucu) sebuah kelompok yang berasal dari nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang yang cukup aktif memproduksi konten-konten di instgram dan youtube.

Dalam produksi ini, tentu kelompok CML mendapatkan satu pengalaman baru bagaimana kemudian memproduksi seni visual. Dalam produksi ini pula kemudian mereka bertemu dengan banyak komunitas, serta juga pegiat film di Sumatera Barat. Kabar baiknya, komunitas-komunitas tersebut juga ikut memberikan dorongan untuk produksi.

Home.id yang merupakan kelompok kolaborasi yang bergerak di bidang penyewaan alat-alat produksi film. Asistant Photography yang ikut memberikan donasi dalam bentuk peminjaman lensa dan beberapa peralatan kamera lainnya. Relarugi Foundation yang merupakan sebuah kelompok kolektif yang juga bergerak di bidang seni visual ataupun film. Kelompok Gumarang Film yang diwakili oleh Fadhil Maulana Johanis yang terlibat utuh dan secara langsung sebagai salah satu tim produksi.

Dengan waktu yang tidak banyak, sitenggang lapa selesai juga. Di bawah gerimis, ribuan pasang mata menatap lekat ke panggung. Di panggung itu dipasang kain putih yang begitu lebar. Kain itu tidak lain adalah layar untuk memproyeksikan gambar-gambar yang telah diproduksi Edo. Dengan berkaca-kaca Edo menyaksikan orang-orang di bawah panggung. Orang-orang itu ada yang tertawa lucu, juga tidak sedikit yang terharu melihat wajah-wajah yang mereka kenali ada di dalam layar. Orang-orang di layar itu membawa pesan, mereka sedang bercerita tentang persoalan-persoalan yang mungkin mereka rasakan bersama-sama.

Seorang ibu bersama anak perempuan satu satunya, Sri. Fatimah yang agaknya mulai menyadari bahwa waktu yang tengah berubah ini. Yang barangkali akan memisahkannya dengan apa yang kita sebut dengan pokok kehidupan yaitu sawah dan ladang. Barangkali ia menjadi generasi terakhir yang mampu untuk mengelola semua harta pusakanya, sawah dan ladang. Ia tahu betul, anaknya Sri, serta generasi sezamannya tidak lagi menjadikan sawah sebagai lahan basah.

Ekspresi masyarakat meyaksikan film sitenggang lapa

Sawah-sawah akan menjelma beton-beton, cafe-cafe, serta apa saja yang diatasnamakan dengan pariwisata. Perempuan itu kini harus berhadapan dengan apa yang diyakini kepala kaumnya. Antara ingin menjual atau bertahan. Mayik tabujua di ateh rumah, rumah gadang katirisan, dan gadih gadag alun balaki, mambangkik batang tarandam. Hanya itu prasyarat yang membolehkan menjual tanah pusaka. Lantas bagaimana dengan hari ini? Apakah demi masa depan kita akan menjual masa lalu?

keron

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke atas