Jika hendak menuju jorong Sikabu-kabu dari kota Payakumbuh, maka kita terlebih dahulu akan melewati jorong Lakuak Dama. Jorong ini sangat ramai oleh anak-anak muda, dan seperti kebanyakan masyarakat di nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang ini, masyarakatnya yang cendrung agak padunie(suka hiburan-hiburan). Begitu juga jorong Lakuak Dama ini, masyarakatnya mempunyai banyak kegiatan, dan kegiatan-kegiatan yang mereka perbuat biasanya terpusat, tepatnya di balai adat. Disamping sebagai balai pertemuan formal dan juga non formal, di itu juga ada lapangan voli, sekalian lapangan futsal, serta ada panggung permanen yang biasa digunakan untuk menggelar acara-acara hiburan kesenian. Di lapangan ini juga dilengkapi dengan lampu yang sangat benderang dari empat penjuru untuk menerangi lapangan, serupa stadion olah raga.
Di lapangan itu pulalah saya sering melihat anak-anak muda latihan randai. Terang saja, di jorong ini ada kelompok randai yang mulai diaktifkan kembali. Nama kelompoknya Santan Batapih, yang diorganisir langsung oleh bapak kepala jorong Lakuak Dama, yaitu bapak Herman. Kelompok yang didominasi oleh anak muda, saya kira hampir semua pemainnya masih remaja. Ketika sedang latihan mereka terlihat tidak canggung lagi memukul kandik (celana randai) yang mereka kenakkan, dan warna bunyi yang keluar sungguh bulat.

Apa yang saya lihat ini kemudian menjadi materi diskusi saya dengan Andes Satolari, direktur Legusa Fest. Sepertinya yang ada dan aktif di jorong Lakuak Dama adalah kelompok randai, sementara kita mencari pelaku-pelaku musik untuk diajak berproses bersama dalam Legusa Fest. Sedangkan kita tau bahwa randai merupakan kesenian yang kompleks, ada teater, tari dan musik di dalamnya. Maka dengan senang hati kami tawarkan kepada anak randai jorong Lakuak Dama, untuk memunculkaan musikalitas dari randai tersebut. Bagaimana caranya, tentu mereka bertanya-tanya perihal itu. Ya, yang kita garap adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan dari tapuak kandik (tepuk celana randai).
Semacam memainkan pola-pola perkusi, akan tetapi media bunyinya berupa tepuk tangandan pukulan kandik atau celana randai.Tetapi, tentu tidak meninggalkan goreh, berupa suara-suara khas yang menjadi qiu atau sebagai penanda masuknya sebuah gerakan randai. Maka, dengan senang hati pula mereka mengiyakan dan sangat tertarik dengan konsep garapan serupa itu. Lantas,dengan segera anak randaijorong Lakuak Dama, diantaranya Rifal, Rizal, Rahman, Rahmat, Dion, Rifki, Tegar, Yani, Diah, Risca, Lusi, Sari, dan Zilan, kami perkenalkan dengan Fandi Pratama. Adalah seorang seniman muda yang bergiat di Ruang Kreatif La Paloma dan (BSTM) Bengkel Seni Tradisional Minang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang.
Ketika memulai latihan pertama, tampak anak randai agak kebingungan, bagaimana pula itu randai yang tidak ada ceritanya, dan hanya pukulan-pukulan saja. Namun, setelah beberapa kali proses agaknya menarik pula, mereka terlihat seru-seruan memukul-mukul kandikmencari warna bunyi yang sekiranya pas untuk kebutuhan sebuah pola. Serta mencari kesesuaian antara tepuk tangan dan pukulan kandik. Mereka seolah sedang berandai-andai dengan santai.

Meskipun pukulan-pukulan yang dibuat telah biasa mereka mainkan di dalam gerak randai, namun mereka tampak terkendala pada kekuatan fisik. Jelas saja, biasanya dalam randai setelah memukul kandik ada jeda untuk memulai dialog. Akan tetapi dalam garapan ini, dialog itu digantikan oleh pola-pola musik yang terus menerus. Hal ini tergambar dari tempo permainan, bagaimana ketika mengawali pola tertentu mereka sangat semangat, namun di pertengahan mulai kendur dan tempo pun melambat. Tentu ini menjadi soal tersendiri, dan perlu dicarikan pengakalan-pengakalan untuk mengantisipasi kendala fisik terebut.Diantaranya, menggunakan dendang di sela-sela pola satu dan pola lainnya.
Antara panggilan kesenian dan panggilan pekerjaan
Sejak awal, Legusa Fest diinisiasi untuk merayakan proses kreatif anak nagari, serta juga untuk merayakan momen lebaran. Legusa Fest diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan anak nagari dengan anak rantau yang pulang kampung saat lebaran. Untuk itulah, jadwal pementasan dibuat dalam suasana lebaran, tepatnya hari kedua setelah lebaran. Dan konsekuensi untuk ini tentu jadwal latihan bertalian dengan puasa ramadhan. Agaknya, proses latihan tidak setotal pada saat hari biasa, karena tentu mereka juga menjalankan ibadah puasa.
Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, bagi sebagian kawan-kawan momen ramadhan juga dipergunakan untuk mengambil proyek pekerjaan untuk nanti memenuhi biaya saat lebaran. Begitu juga anak-anak randai Santan Batapih, beberapa diantaranya adalah Rifal, Rijal, dan Rahman. Mereka akan membantu orang tua Rifal di rumah makan miliknya di Pekan Baru, membantu melayani pengunjung, tentu saat ramadhan ini pengunjung lebih ramai dari biasanya. Begitu malam pertama ramadhan mereka langsung minta izin kepada kami untuk pergi ke Riau, bahwa selama ramadhan mereka tidak bisa ikut latihan bersama, tetapi mereka coba latihan sendiri di tempat kerja. Lantas, kelompok Santan Batapih meneruskan jadwal latihan tanpa Rifal, Rijal, dan Rahman.
Tentu hal serupa ini menjadi ketertarikan tersendiri pula, setidaknya bagi saya. Bagaimana kemudian kesenian di kampung-kampung, paling tidak di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang berada diantara hobi, rasa tanggung jawab untuk melestarikannya, serta juga keharusan meninggalkannya untuk bekerja melanjutkan hidup.

Saya membayangkan orang-orang semacam Rifal, Rizal, dan Rahman, disamping harus mengemban beban budaya yaitu sebagai pelaku kesenian randai, sementara itu mereka juga harus melanjutkan hidup disisi lainnya. Tentu teman-teman yang lain menunggu dengan dengan cemas, sementara proses ini tetap harus berlanjut. Karena mereka masuk ke dalam salah satu kelompok yang akan pentas pada perayaan Legusa Fest. Sebuah perayaan proses kreatif musikal anak nagari. Santan Batapih menjadi representasi dari masyarakat jorong Lakuak Dama yang padunie, yang begitu aktif, yang tidak mau untuk tidak terlibat dengan kegiatan-kegiatan kreatif kepemudaan di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang.
