Jhon Selon tak kunjung bisa mencari keterhubungan antara teknik pertambangan dengan musik yang sekarang digelutinya. Meskipun begitu, musik tak kalah penting baginya. Jika memang tak ada keterhubungan, namun ia telah meyakini satu hal. Bahwa, jika teknik pertambangan adalah hidupnya, maka nada-nada, ritma, serta tempo adalah yang memberinya semacam ambien untuk menjejaki tajamnya batu-batu di pertambangan.
Selno Afdianto, begitu namanya dikenal di tempat ia berkuliah. Namun, panggung gitar, dan mikrofon merubah nama itu menjadi Selon. Hal itu memang karena ia lebih aktif bersuara di panggung-panggung dari pada di bangku kuliah kampusnya. Hingga kini, ia lebih akrab, bahakan juga lebih senang ketika namanya dipanggil dengan nama Selon. Sebetulnya tidak hanya musik, ia juga berkecimpung dalam dunia teater, dan juga seni rupa.
Sebetulnya, telinga Selon sudah begitu akrab dengan nada-nada dan irama. Bahkan, pengalaman auditifnya itu telah terbentuk sejak kecil. Orang tuanya, juga seorang pemain musik. Dan pernah menempuh perkuliahan di ASKI Padangpanjang. Karena itu barangkali, hingga kini, musik telah menjadi darah dan daging banginya. Bermusik, baginya adalah ruang bebas hambatan untuk membiarkan energi-energi liar saling berkejaran dengan imajinasinya. Apa yang kemudian diresapinya, dituangkan dalam lirik-lirik, yang dengan mudahnya menjadi sebuah lagu.
“Saya dengan mudah bisa membuat lagu, tapi begitu mudah juga untuk lupa,” katanya sambil terkekeh-kekeh. Ia ingat dulu tahun 2000an ketika memproduksi sendiri albumnya. “Zaman itu masih menggunakan kaset pita. Entah sudah berapa album dan juga single yang sudah terekam” tukuknya. Kini, tahun 2023 ia kembali merilis mini album yang dilabelinya dengan “album semu”. Lagu-lagu di album ini banyak bercerita tentang kritik sosial dan juga dendang balada untuk para petani.
**
Di lereng gunung Sago, nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, kembali akan menggelar festival seni pertunjukan kebanggan mereka. Tahun ini, aka nada beberapa seniman yang akan tinggal dan berproses bersama kelompok-kelompok kesenian yang ada di dalam masyarakat. Selon merasa senang sekali ketika Tim Legusa Festival ingin melibatkan dirinya salah satunya. Selon dipertemukan dengan kelompok kesenian Sabai Nan Aluih, dari jorong Tanjung Haro Utara.

Selon sempat takjub, awalnya dia membayangkan akan berproses bersama kelompok kesenian sanggar yang didominasi oleh kaum ibu dan juga bapak-bapak. Namun rupanya Sabai Nan Aluih ini sesuai dengan namanya. “Pemainnya aluih-aluih semuanya,” kata Selon. “Namun, meskipun aluih-aluih, mereka ternyata sangat piawai memainkan instrumen musik tradisi. Saya tak menyangka, di nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang ini anak-anak nagari, usia muda-muda masih banyak yang mau memainkan musik tradisi,” sambung Selon.
Aluih dalam bahasa Minang berarti kecil sekali. Memang, kelompok ini didominasi oleh anak-anak usia remaja berbadan kecil. Kelompok ini dulunya terbentuk sejak penyelenggaraan Legusa pertama. Sampai hari ini masih aktif dan terus bergeliat. Agaknya sekarang sudah generasi ke tiga. Generasi pertama sudah ada yang kuliah dan bahkan ada yang menikah. Ketika memilih menikah, tentu kesenian tak lagi indah.
Pertemuan pertama, Selon mengajak Sabai Nan Aluih berdiskusi. Sebetulnya, pengalaman pertama pula baginya berkolaborasi dengan kelompok kesenian tradisi. Kira-kira karya apa nanti akan digarap untuk pentas Legusa.
Dengan tidak sengaja, Selon memperdengarkan salah satu lagu di album terbarunya. Lagu itu berjudul sawah ladang. Agaknya, anak-anak Sabai Nan Aluih langsung tertarik. Sebuah lagu yang menceritakan bagaimana sawah ladang yang sudah mulai ditinggalkan. Kiranya lagu tersebut begitu kontekstual dengan masyarakat nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang.
**
Suara bangsi, gendang, dan ritma talempong, petikan gitar akustik, membuka pertunjukan. Dendang dibawakan oleh dua orang perempuan, sementara Selon berorasi tentang air, tanah, sawah, ladang, dan diksi-diksi pertanian lainnya.

“Sungai mengalir menuju muara, Hutan rimba menyaksikannya. Hijau bumi ku subur tanahnya, namun kini engkau tinggalkan, namun kini engkau hancurkan.” Dua suara sopran perempuan berkelindan dengan suara bas Selon. Suara mereka bertiga terdengar saling bawa membawa. Ditambah dengan lirik yang cukup ironi. Petikan gitar dengan sukat tiga perempat memberi penekanan kuat akan keresahan Selon dalam lagu itu. Sukat ganjil itu ikut membawa penonton untuk menggerakkan kepalanya. Seolah ikut dalam irama-irama balada persawahan yang dibangun oleh Selon dan Sabai Nan Aluih.
Kiranya tepat benar karya ini dipentaskan malam itu. Nagari tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, sebuah nagari agraris dengan segenap persoalannya. Krisis air di beberapa titik lokasi persawahan masyarakat. Mulai beralihnya mata pencaharian sebagian masyarakat dari pertanian ke mata pencaharian yang tidak bersinggungan lagi dengan tanah. Lalu tiba-tiba, di sawah-sawah yang katanya potensial, muncul satu paradigma baru. Yaitu yang kita kenal dengan pariwisata. Nagari yang dulunya sepi sunyi yang dibungkus kabut dingin, kini tiba-tiba ramai dengan kunjungan. Lantas, sawah-sawah menjelma café-café dan penginapan.

Semoga kolaborasi dg musik tradisi dpat mlestarikn budaya bangsa ..
Semngat buat anak2 muda dan selamat buat bg selon..sehat selalu 🤗