Legusa Festival 2023: Merespon Persoalan Petani Lewat Ragam Karya

Sejak beberapa tahun ke belakang, petani di Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padang Panjang (Sitapa), tengah resah. Air yang dulunya melimpah, kini mulai berkurang. Sebagian sawah basah mulai beralih menjadi sawah tadah hujan. Kemana perginya air yang dulu melimpah itu?

Pertanyaan itulah yang mendorong anak nagari Sitapa mengusung tema ‘air dan tanah yang hiduap di atasnya’ dalam gelaran Legusa Festival 2023. Dalam festival yang digelar selama 4 hari itu (23-26 November 20223), berbagai seni pertunjukan ditampilkan sebagai respon atas fenomena kelangkaan air sawah di Sitapa dan tanah yang makin cemar.

Tunduk Pada Tanah, Meraba Solusi Krisis Air

Matahari pagi mulai mendaki di Sitapa. Beberapa petani memanen dua petak sawah di tepi jalan. Gunung Sago menjulang agung, seperti mengawal proses panen itu. Seorang penari tiba-tiba masuk ke tengah sawah yang sedang dipanen itu. Dengan kikuk, ia berjalan memasuki sawah, melewati galur bekas padi yang baru saja disambit para petani. Ia masuk makin jauh ke tengah sawah. Langkahnya yang awalnya tak beraturan, mulai selaras dengan bunyi sabit petani yang tengah memotong batang-batang padi.

Semakin ke tengah, semakin ia tampak menyatu dengan sawah itu. Membuat gerakan-gerakan menyemai bibit padi, mencabuti hama rerumputan, dan kemudian gerakan memanen. Dari semua proses itu, hanya sejumput beras yang dihasilkannya. Tubuhnya lunglai, lalu terhempas ke tanah di sawah. Mencoba berdiri lagi, dan kembali tersungkur.

Setelah berhasil bangkit, geraknya kini jauh lebih lincah. Ia mulai lagi gerakan menyemai bibit, mencabut hama, dan memanen padi dengan lebih cepat, seolah ia telah bertani sejak usia remaja. Koreografinya yang berangkat dari gerak silek minang, semakin tampak. Ia seperti bersilat di antara hempasan batang padi ke palambuak (alat panen tradisional untuk memisahkan butir padi dengan batangnya), mengikuti ritmis hempasan tersebut.

Empat penari lainnya perlahan mendekat ke arahnya dari empat penjuru, masing-masingnya menjujung pipa paralon. Dan saat mereka bertemu, si penari menyatukan ujung paralon-paralon itu hingga membentuk paralon dengan formasi segi empat.

Cuplikan pertunjukan di tengah sawah itu merupakan karya penari dan keoreografer Siska Aprisia dengan judul Tunduk Pada Tanah. Siska adalah salah satu seniman yang terlibat dalam Legusa Festival tahun ini. Untuk memainkan karyanya Ia berkolaborasi dengan beberapa penari anak nagari.

Sudah 2 minggu lebih Siska berada di Sitapa. Tinggal bersama bersama petani. Mengikuti mereka ke sawah, mendengar keluhan-keluhan tentang kelangkaan air, berbincang-bincang mengenai asal-usul persoalan tersebut, serta harapan-harapan mereka.

“Ternyata ada beberapa petani yang memasang pipa paralon langsung dari sumber air menuju sawahnya. Jumlah pipa-pipa itu cukup banyak. Sebagian sawah lainnya, jadi minim pengairan. Agar pipa-pipa itu tidak dirusak pemilik sawah lain, mereka haru ronda malam,” jelas Siska setelah pertunjukan yang digelar Sabtu pagi di  (25/11/2023).

“Satu hal lagi yang saya temukan adalah tidak adanya lagi ruang dialog untuk memecahkan persoalan kelangkaan air ini. Padahal, dulu ada Datuk yang tugasnya khusus membagi aliran air secara adil. Nah, posisi itu kini sudah tidak ada,” tambah alumni ISI Padangpanjang itu.

Tunduk Pada Tanah, berkisah soal kelangkaan air dan rusaknya hubungan sosial para petani sebagai akibatnya. Disatukannya pipa-pipa paralon milik pribadi hingga membentuk formasi segi empat di akhir pertunjukan, lanjut Siska, adalah simbolisasi harapannya agar pengelolaan sumber air yang semakin indivdual kembali ke bentuknya yang komunal. Ia adalah ajakan ke para petani agar membuka lagi ruang dialog.

Ia menambahkan, karyanya juga bicara soal pengabaian dan eksploitasi berlebihan atas tanah, penggunaan pestisida di luar batas, atau pengelolaan sampah plastik yang kurang baik yang bisa menundang timbulnya bencana ekologi.

“Pertunjukan Siska ini semacam himbaun awal. Nanti setelah Legusa selesai, kita ajak petani, adakah pertemuan warga untuk bahas solusi kelangkaan air ini, dan problem seperti manajemen sampah dan pestisida berlebihan,” kata Keron salah seorang inisiator Legusa Festival saat ditemui di sela-sela pertunjukan Tunduk Pada Tanah.

“Jadi, Legusa ini kami harapkan buka sekedar hiburan saja, tapi pemancing untuk menuntaskan persoalan di masyarakat, dalam konteks ini masyarakat tani di Sitapa,” tambahnya.

Para pemotor yang kebetulan lewat, tampak berhenti demi menyaksikan pertunjukan. Juga penjaja makanan yang ikut nimbrung. Ibu-ibu petani yang sedang tidak ke sawah, menyempatkan diri hadir duduk-duduk di pematang sawah. Awalnya sebagian tampak bingung dengan pada yang dilakukan Siska. Namun dalam diskusi setelah pertunjukan, mereka tampaknya mulai paham pesan yang ingin disampaikan Siska. Beberapa petani dan warga setuju soal ajakan dibukanya ruang dialog.

Turun Ke Bawah: Kolaborasi Warga dan Seniman

Dalam Legusa Festival 2023 ini anak nagari memang mengajak seniman-seniman dari luar Sitapa untuk stay in, hidup membaur bersama masyarakat selama 3 minggu, lalu berkolaborasi menciptakan karya berangkat dari persoalan air dan tanah.

“Kami ajak teman-teman seniman untuk kolaborasi dengan grup seni yang ada di jorong-jorong di Sitapa. Mereka tidak hanya datang lalu membuat musik atau seni pertunjukan, namun lakukan riset tentang persoalan air itu, turun ke tengah-tengah masyarakat untuk menyelami persoalan dan membuat karya berangkat dari persoalan itu,” kata Keron.

“Karya hasil turun ke bawah ini, ditampilkannya juga ke masyarakat yang empunya kesenian itu, bukan dibawa keluar Sitapa untuk di tampilkan di gedung-gedung kesenian yang jauh dari masyarakat Sitapa” sambung seniman yang kini juga berstatus Pendamping Desa Budaya.

Nagari Sitapa sendiri kini menjadi salah satu Desa Budaya, di program Pemajuan Kebudayaan Desa. Nagari ini memang kaya dengan berbagai bentuk kesenian. Saat ini, di setiap jorong terdapat satu kelompok seni, baik seni musik atau pertunjukan. Sebut saja Grup Talempong Sikatuntuang—salah satu kesenian tradisional yang kini terancam punah, namun masih hidup dan tumbuh di Jorong Padang Laweh.

Selain Siska, ada seniman-seniman lainnya dari luar Sitapa yang berkolaborasi dengan grup seni warga. Mereka umumnya seniman yang mempelajari beragam ilmu seni di kampus, mulai dari tari, musik, hingga audi-visual. Di samping itu, seniman-seniman non-akademik dari luar Sitapa juga diajak berpartisipasi.

Mereka berkolaborasi membuat karya dengan grup kesenian warga. Warga ini umumnya adalah petani, yang berkesenian di sela-sela kegiatan taninya. Di rumah-rumah warga itulah para seniman menetap selama beberapa waktu, mencoba menjadi bagian dari mereka, dan mengenali persoalan-persoalan yang mereka alami terutama dalam kaitannya dengan air dan tanah. 

Darisanalah sumber karya-karya kolaborasi yang ditampilkan selama dua malam di Legusa Festival 2023. Di antaranya ada Sanggar Puti Ambang Bulan yang kolaborasi dengan Ari; Grup Talempong Sikatuntuang yang kolaborasi dengan seniman kucapi Ruli; Pitopang Saiyo dengan Deni; Puti Indah Julito dengan Capaik; Sabai nan Aluih dengan Jhon Selon; serta karya yang merespon persoalan air dan tanah dalam bentuk audio-visual yang digarap oleh filmmaker Doni Koro bersama anak nagari Sitapa.

Festival Warga yang Dirintis dari Bawah

Festival ini tak muncul tiba-tiba. Ia mulai dirintis oleh anak nagari Sitapa sejak 2018 silam. Pada masa-masa awal itu, Keron, Andes, dan lainnya mulai mendata jenis-jenis kesenian yang masih hidup di Sitapa. Mereka menemukan bahwa di 6 jorong di Sitapa masih ada grup seni yang masih bertahan dan ada grup seni yang telah vakum.

Merekapun mendorong grup-grup seni itu kembali hidup dan bergairah dengan merancang festival dari warga untuk warga sebagai ruang untuk pentaskan karyanya. Di tahun-tahun awal itu, Legusa digelar berkeliling dari jorong ke jorong, dengan memanfaatkan fasilitas dan infrastruktur yang tersedia. Festival di salah satu jorong, bisa digelar di ‘dalam parak’ (kebun) samping rumah warga yang sedang tidak ditanam. Kadang festival ini digelar di bekas gedung penggilingan padi. Dan semuanya nyaris didanai oleh warga sendiri. Mulai dari logistik, dan komsumsi, dihimpun dari sumbangan warga. Persoalan artistik, dan seterusnya, juga dikelola oleh warga sendiri.

Seiring waktu, warga makin akrab dengan pertunjukan budaya. Anak-anak muda makin banyak yang terlibat, baik sebagai panitia maupun bergabung ke salah satu grup seni. Seni budaya di Sitapa kembali bergeliat, sebagaimana dulu di masa lalu ketika saban minggu grup-grup kesenian tampil di tanah lapang atau di sawah-sawah pada pesta perayaan pasca-panen.

Grup-grup seni yang dibangun serta diperkokoh kembali sejak 2018 itulah yang menjadi tulang punggung beragam pertunjukan Legusa Festival 2023. Saat para seniman dari luar Sitapa datang, grup-grup kesenian warga yang juga telah mengembangkan diri selama beberapa tahun terakhir, telah siap untuk kolaborasi. Legusa Festival 2023 adalah tahun keempat festival yang kini difasiltasi oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, melalui Direktorat Jendral Kebudayaan, Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan (PPK), dalam program Pemajuan Kebudayaan Desa.

*tulisan ini ditulis oleh Randi Reimena, dan sudah dimuat di harian padang ekspres, Senin 4 Desember 2023

keron

Satu komentar di “Legusa Festival 2023: Merespon Persoalan Petani Lewat Ragam Karya

  1. Keren,,pingin lebih lama tinggal dikeluarga baruku,,,bapak ibuk,si arif,ari,dan si capek,karena masih ada diskusi dan bercengkerama yang belum kelar ” Tunduk Pada Tanah” memilki makna yang sangat luar biasa.Ditambah pas waktu mereka perform aku harus balik kanan .Salam budaya ….semoga saudara di Sitapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke atas