Hario Efenur dan jalannya yang selalu berbunyi

Jika Hario Efenur ingin berterimakasih kepada orang yang telah “menjerumuskan” dirinya ke dunia yang ia senangi saat ini, yaitu dunia bunyi, maka orang yang harus ia cari adalah Haji Hamadar. Sebabnya, Haji Hamadar lah yang membuat Hario kecil bisa berkenalan dengan bunyi-bunyian.

Sejauh ingatannya, ketika itu Haji Hamadar begitu resah dengan aktivitas anak-anak muda nagari Lasi yang begitu sunyi, dan berputar-putar disitu-situ saja. Bergulung-gulung berkain sarung di bale-bale lapau, maota sekenanya, mencubit kertas koa, menghempaskan batu domino. Lalu, tiba-tiba saja, Haji Hamadar membelikan 6 buah gendang tambua dan 1 buah gendang tasa. Niatnya cukup sederhana, supaya anak-anak muda di nagarinya punya aktivitas lain, setelah lapau.

Untungnya, niat baik nan sederhana itu berjumpa dengan kemauan anak-anak muda Lasi. Maka, setiap sorenya, anak-anak muda itu menjadi punya kesibukan baru. Menghentak-hentak balai dengan gendang tambua dan tasa.

Aktivitas baru itu, kiranya mampu mencuri perhatian masyarakat sekitar balai di Nagari Lasi, Kec. Canduang, Kab. Agam. Setiap kali ada latihan, setiap itu pula ada keramaian. Tampaknya, masyarakat begitu senang dengan aktivitas itu. Hario Efenur, seorang laki-laki belasan tahun ketika itu, pun mengangguk-angguk dalam ritma yang serupa genderang perang itu. Pada hari berikutnya, dengan begitu percaya diri, ia menawarkan diri pula untuk ikut dalam keasyikan yang menggaga itu.

Tak disangka, yang selalu digendanginya saban sore itu terus berlanjut hingga ia menamatkan sekolah menengah. Tak dapat pula dikira, begitu banyak panggung-panggung, pawai-pawai, serta seremonial-seremonial kebudayaan, yang diikutinya. Hingga pikirnya, apa yang telah ia tekuni itu perlu dikembangkan selebar-lebarnya. Maka, melanjutkan ke ISI Padangpanjang adalah pilihannya.

Namun, pilihannya itu sempat ditentang dengan begitu halus oleh orang tuanya, namun, ia punya cara untuk membuluskan pilihannya itu. “Cubolah masuak SPMB lu nak, beko kok indak lulus baru ka ASKI,” pinta orang tuanya dengan halus. Lalu, Ia memilih masuk jurusan bahasa Jepang. Jurusan yang ia yakin tidak mungkin akan lulus. Maka, tahun depannya ia bisa masuk dengan mulus di ISI Padangpanjang, jurusan Karawitan, fakultas seni pertunjukan.

Menyelami dunia bunyi dan memilih bercanda dengannya

ISI Padangpanjang, sebuah dunia baru, dunia yang mengenalkannya pada jagat bunyi yang lain. Tak hanya gendang yang ritmis, tetapi juga ada bunyi-bunyi yang melodis. Baik itu bunyi-bunyi yang ditiup, digesek, ataupun dipetik. Ia kenal pula karakter-karakter bunyi, baik bunyi-bunyi yang khas pesisiran, maupun bunyi-bunyi khas daratan. Ia kemudian mengenal pula ragam nyanyian-nyanyian tradisi, serta nada-nada yang membentuknya, teknik-teknik dan cara memainkannya, garitiak, dan garinyiak.

Setelahnya, berproseslah ia dengan itu. Berawal dari hanya memainkan bunyi-bunyi yang telah tersusun dalam sebuah komposisi. Hingga kemudian, ia sudah mampu pula menyusun bunyi-bunyi dalam komposisinya sendiri. Setidaknya, sudah lebih dari 15 karya komposisi yang sudah ia bunyikan. Cukup produktif saya kira. Pantas saja kalau kemudian Interntional Gamelan Festival memberi kesempatan pada Hario untuk mementaskan karyanya.

Panggung besar itu kemudian membuat Hario semakin yakin dengan potensi dirinya. Setelah menamatkan studinya dijenjang pascasarjana dengan program penciptaan musik nusantara, agaknya semakin memantapkan pilihannya untuk semakin mendalami dunia bunyi. Pilihan itu kemudian ia pertegas dengan membuat sebuah kelompok komposisi bunyi yang ia namakan dengan Candasuara. Adalah sebuah ruang baginya untuk menciptakan karya musik, akan tetapi tidak dengan instrumen konvensional atau instrumen yang umum digunakan. Bagaimana kemudian tanpa instrumen musik, ia masih tetap bisa menciptakan susunan bunyi dalam satu pertunjukan. Ialah dengan memaksimalkan tubuh dan aksesoris-aksesorisnya sebagai sumber bunyi. Sebutlah itu vokal-vokal, tepukan tangan, hingga hentakan kaki.

keron

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke atas