Syahrial. Adalah orang yang pertama sekali kami hubungi di jorong Tanjung Haro Utara. Nama Syahrial muncul agaknya karena dialah salah satu orang yang super aktif diantara banyak anak muda lainnya di jorong ini. Mulai dari urusan surau, kegiatan-kegiatan keagamaan, kegiatan kepemudaan, kegiatan di SD N 03 Tanjung Haro, dan kegiatan kesenian yang akan kami bebankan pula kepadanya. Tentu saja yang kami maksud adalah urusan yang menyangkut kelompok musik Tanjung Haro Utara yang akan segera dibentuk.
Pertama kali mengundangnya sebagai perwakilan jorong Tanjung Haro Utara untuk bediskusi soal konsep Legusa Festival, tampak sekali wajah tegangnya. Terang saja, ketika gagasan Legusa Festival di lempar kepadanya ia sudah membayangkan ini akan menambah daftar pekerjaan sosialnya. Padahal, disamping itu ia ingin anak-anak muda di kampungnya aktif dan banyak kegiatan-kegiatan postitif. Tapi, untung pada pertemuan selanjutnya ia mampu membawa beberapa orang teman-teman muda lainya. Lantas membagi pekerjaan sosial ini kepada mereka.
Ketika kami menerangkan bahwa kegiatan ini berupa mendorong anak nagari untuk membentuk sebuah kelompok musik, setelah kelompok terbentuk akan diberi semacam workshop, kemudian latihan, lalu pementasan. Untuk itu kami perlu mencari dan menemukan pelaku-pelaku kesenian yang ada dalam masyarakat Tanjung Haro Utara. Baik itu seni tradisi, maupun seni popular yang digeluti oleh anak muda. Harapannya, para pelaku ini akan berkolaborasi untuk membuat sebuah karya bersama.

Selang seminggu kemudian belum juga ada nama-nama yang direkomendasikan siapa kira-kira para pegiat kesenian yang ada di Tanjung Haro Utara. Pernah ada seorang tukang saluang, namun sekarang beliau tidak bermain lagi lantaran giginya sudah banyak yang copot. Karenanya beliau susah untuk meniup instrumen saluang yang memang memerlukan teknik meniup, serupa selisih nafas, dan tentu memerlukan kekuatan gigi agar nafas yang terkumpul di mulut tidak melesuh saja alias tidak bulat keluarnya. Kebulatan nafas inilah yang beresonansi dan menghasilkan bunyi pada instrumn saluang ini. Juga pernah ada seorang pemain rabab, tetapi juga tidak bermain lagi lataran rebabnya disimpan oleh istrinya, pertanda tidak boleh lagi bagurau oleh istrinya.
“Begitu susahnya mencari pegiat kesenian tradisi di kampung kami,” begitu kawan-kawan Tanjung Haro Utara memberikan laporan kepada kami. “Lantas yang ada apa?” kami (saya dan Andes) balik bertanya. Saya dan Andes yang akan menjadi fasilitator untuk membuat musik untuk jorong ini. Mereka mengatakan, bahwa yang ada hanya beberapa anak muda yang kerap bergitar dan bernyanyi di pinggir jalan kemudian sesekali pergi ke studio musik untuk latihan band.
Kami pikir itu juga menarik, sesegera mungkin kami berkenalan dengan anak-anak muda pemain band tersebut. Diantaranya, ada Zikri pemain gitar, Wanda pemain gitar, Anggi biasa main Drum. Tampak sekali anak-anak muda dengan dandanan keren, bersepatu Vans, baju oblong di dalam dan kemeja di luar, serta dengan rambut pakai pomade.

Setelah berdiskusi soal musik apa yang akan di garap, kemudian mereka menawarkan lagu yang dipopulerkan oleh Ari Lasso, yaitu mengejar matahari. Kami menangkap maksud mereka adalah membuat semacam aransemen musik. Sebagai fasilitator kami sepakat-sepakat saja, cuma menawarkan untuk menambahkan warna lain dalam aransemennya. Kami meminta untuk dicarikan 2 atau 3 orang lagi untuk memainkan talempong, supaya warna musik yang dibuat agak berbeda, ada bunyi-bunyi yang popular, lalu juga ada bunyi-bunyi tradisi. Lantas, kami dipertemukan dengan 3 orang remaja cantik yang mau bemain talempong yaitu Messi, Dea, dan Lisa, sembari membawa 6 buah talempong yang nyaris karatan karena sudah lama tidak dimainkan.
Maka dimulailah proses latihan. Tampak begitu sudah para remaja ini untuk menghapal pola talempong, bahkan hingga ke pertemuan ketiga. Padahal pola yang dimainkan berupa pola talempong pacik. Biasanya, di tempat lain satu kali pertemuan saja sudah mampu memainkan beberapa pola. Kami kira, ini mungkin saja diarenakan oleh ketidakpunyaan pengalaman tentang bunyi talempong dalam ingatan mereka. Ketika ditanyakan, benar saja, bahwa ini pertama kalinya mereka memegang talempong serta memainkannya.
Hampir sebulan proses latihan mereka baru bisa memainkan pola untuk intro sebagai pengantar lagu yang akan mereka mainkan. Karena perkembangan yang lumayan lama, maka kami menawarkan untuk penambahan personil untuk mengimbangi pola-pola dan aksen-aksen cepat yang sulit untuk dimainkan. Beberapa kali latihan kawan-kawan Sanggar Puti Ambang Bulan membantu dibagian perkusi dan melodi. Namun, proses ini juga kurang maksimal karena terkendala soal disiplin latihan. Sehingga kelompok jorong Tanjung Haro Utara harus menambah sesi latihan di luar jadwal yang memang menjadi jatah latihan mereka. Baik itu latihan secara personal, maupun secara bersama berkelompok. Setiap latihan mereka harus merekam pola yang akan dimainkan dengan handphone masing-masing, lalu kemudian mengulangnya di rumah masing-masing.

Setelah beberapa bagian lagu dianggap mulai tampak bentuknya, Andes menambahkan beberapa bait pantun untuk menambah kekayaan aransemen musik. Melalui pantun-pantun ini juga disematkan konteks sosial yang mereka anggap perlu untuk disuarakan. Diantaranya menyoroti bagaimana fenomena sosial disekeliling mereka yang dalam istilah Minangkabau dikenal dengan tungkek mambao rabah. Yang artinya pemimpin yang menjadi pilar untuk menopang tegak berdirinya suatu kaum masyarakat melalui aturan-aturan adat malah menjadi orang pertama yang melanggarnya.
