Deni Alpan kecil tersuruk di belakang alat musik Akordion yang dimainkannya. Sesekali kepalanya diangkatnya sambil melihat dan memastikan jari mungilnya tepat menjangkau nada-nada tinggi di tuts yang berwarna hitam putih itu. Budak kecik asal Muaro Jambi itu bercerita, bahwa ia memang sudah sejak kecil diasah dan diasuh oleh ayahnya untuk menjadi seorang Musisi. Di usia 6 tahun, musikalitasnya sudah ditanam melalui Akordion dan Gendang Melayu. Sanggar Mindulahin, menjadi tempat ia bernaung.
Karena telah berproses sejak usia Sekolah Dasar, masuk Sekolah Menengah Pertama ia telah menjadi bintang dalam urusan kesenian. Banyak orang yang mengajak ia untuk bermain. Bahkan pemerintah daerah pun sering mengirim Deni untuk lawatan-lawatan kesenian, dan kegiatan-kegiatan penting lainnya. Lepas SMA ia banyak memdamingi sekolah-sekolah untuk perlombaan-perlombaan kesenian yang kita kenal dengan FLS2N.
Kini ia menceburkan benar-benar dirinya dalam dunia kesenian. Belajar, berproses secara akademis di ISI Padangpanjang, Sumatera Barat. Padahal, dulu Ayahnya lah yang bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan kesenian di ASKI Padangpanjang. Yang jelas, harapan Ayahnya telah tercapai, menjadikan Deni sebagai orang panggung.
Pertengahan November, Deni mendapat kesempatan menjadi salah satu seniman yang ikut berproses bersama masyarakat Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota. Deni mengikuti program residensi yang dilaksanakan oleh anak nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang dalam gelaran Legusa Festival 2023. Sebuah perayaan aktivitas seni anak nagari. Meskipun proses yang tidak lama, agaknya Deni mendapatkan pengalaman yang sama sekali berbeda dengan proses-prosesnya selama ini. “Proses saya di Legusa menjadi proses yang humanis,” katanya sambal tertawa.
Secara konsep, Legusa Festival 2023 memang mempertemukan para palaku kesenian tradisi dengan seniman. Mereka kemudian membuat karya bersama. Karya ini kemudian yang dipentaskan di panggung Legusa Festival. Deni mendapat kesempatan berkarya bersama satu kelompok yang pemainnya kesemuanya amak-amak. Sebuah kelompok ansambel Talempong Pacik yang Bernama Pitopang Saiyo, yang bermarkas di jorong Bukik Kanduang, nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang.
Deni bercerita, bahwa baru kali ini ia merasakan proses berkarya yang begitu hidup. Mereka sedikit sekali membicarakan musik dan karya yang akan dimainkan. Namun proses mereka saling mendekatkan diri, inilah yang tidak ditemukan Deni di kampus ataupun pada proses-proses yang lain. Dengan proses ini, Deni dan amak-amak Pitopang Saiyo seolah saling memberi makna satu sama lain. Ia mengolah bunyi-bunyi untuk amak-amak, sementara amak-amak itu mengaduk-aduk perasaannya. Jarang sekali Deni mencoba memahami orang lain begitu dalam. Namun, kehidupan amak-amak Pitopang Saiyo begitu menggugah segenap indra perasanya.
Mak Don, yang awalnya bukanlah pemain di Pitopang Saiyo. Namun setiap kali latihan di Balai Adat ia menjadi orang yang pertama kali datang. Bahkan ia pula yang bersemangat untuk menjemput amak-amak lain untuk segera latihan. Deni merasakan Mak Don sebetulnya ingin ikut bermain bersama mereka. Tentu ia mengangguk dengan cepat ketika ditawarkan untuk menggoyang tamborin.
Lain lagi dengan Mak Iwan, selama proses latihan ternyata ia tidak tahu kalau karya ini akan dipentaskan. Baru beberapa hari menjelang pementasan ia mengetahui kalau karya ia buat bersama Deni itu akan dipentaskan. Begitu juga dengan Mak Ceni, yang hampir setiap hari telat latihan. Ternyata, ia terlebih dahulu mengurus suaminya yang sedang sakit. Serta juga menjinakkan pinggangnya yang sering encok. Meskipun demikian, Ansambel Talempong pacik ini rohnya ada pada Mak Ceni.
Hal-hal yang manusiawi inilah yang kemudian menambah rasa pada komposisi yang tengah digarap Deni. Berkesenian bukanlah soal kecakapan teknis memainkan instrument musik. Melainkan kecakapan merasai apa yang dirasai oleh manusia lain. Begitu pengakuan Deni setelah kembali ke Padangpanjang.
Batanyo bajawek: karya sederhana namun mengena
Namanya amak-amak, tentu tidak bisa mengenyampingkan naluri keibuan mereka. Waktu yang pendek bukannya digunakan untuk fokus latihan. Memukul Talempong dan bermain bersama agaknya menjadi yang nomor 3 bagi amak-amak Pitopang Saiyo. Mengenal Deni lebih dekatlah yang menjadi utama. Dimana kampung, nama ayah ibu siapa, berapa bersaudara, bagaimana kehidupan orang tua.

Setiap hari, Deni selalu dijajal pertanyaan demi pertanyaan. Deni tentu tidak mau kalah, ia juga menyerang dengan pertanyaan balik. Pertanyaan demi pertanyaan pun dikembalikan kepada amak-amak. Apa pekerjaan sehari-hari, anak cucu berapa orang, bagaimana kehidupan. Latihan agaknya selalu dimulai dengan dialog. Dialog ini pulalah yang kemudian menginspirasi Deni untuk membuat karya.
Pertanyaan dengan logat Minang-Sikabu-Kabu dijawab oleh Deni dengan Bahasa Melayu Jambi. Begitu juga sebaliknya. Komunikasi antar budaya, begitu Deni membayangkan karyanya bersama amak-amak Pitopang Saiyo. Akordion dan Gendang melayu kemudian berdialog dengan Talempong Pacik. Mereka tidak peduli lagi dengan Bahasa yang digunakan. Dengan musik, yang penting adalah komunikasi. Antaseden dan konsekuen. Dengan Bahasa musik mereka mampu dan mau untuk saling memahami serta menerima kekurangan satu sama lain.
Karya bersama itu berhasil dipentaskan dengan keharuan. Amak-amak ini pentas di panggung yang begitu besar. Disaksikan oleh ribuan pasang mata warga masyarakat nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang. Disinari cahaya yang gemerlapan, ditambah dengan mesin asap, serta soundsystem yang 20.00 watt. Namun tidak hanya itu yang membuat haru. Kepergian Deni setelah ini yang menjadi titikan air mata oleh amak-amak ini. Dengan kepergian Deni tentu Balai Adat akan sepi. Tidak ada lagi buni-bunian. Tidak ada lagi yang akan dibawakan makanan. Rupanya, tidak hanya bagi amak-amak, Deni juga merasakan hal yang sama. Di belakang panggung anak dan amak ini saling berpagutan, berurai air mata. Benar-benar tidak pernah Deni merasakan hal serupa itu.
Dua kardus aqua besar ditenteng Deni Alpan dan pacarnya ketika hendak kembali ke “dunianya” di ISI Padangpanjang. Kardus besar itu berisi pisang, kerupuk, sanjai, beras, gula aren, serta umbi-umbian. Kardus dan seisinya itu merupakan buah kedekatan Deni dengan amak-amak di jorong Bukik Kanduang, nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota, setelah pemyelenggaraan Legusa Festival 2023 selesai digelar. Sebuah perayaan aktivitas seni anak nagari.
Genap sudah 3 minggu Deni tinggal di nagari Tanjung Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. Tiga minggu, tentu waktu yang pendek untuk sebuah proses kesenian. Namun, waktu yang pendek itu cukup untuk merubah pandangan Deni tentang dunia kesenian, yang bahkan telah diyakininya sejak lama sekali, yaitu sejak kelas 6 Sekolah Dasar.
“Bagi saya, proses di Legusa beberapa minggu ini bukan soal tempo, soal nada, irama ataupun soal kecakapan-kecakapan teknis dan musikalitas seseorang. Melainkan adalah soal manusianya,” ujar Deni beberapa hari kemudian.
